Analisis Restrukturisasi SPIP 2026
Dokumen proposal restrukturisasi SPIP (Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan Indonesia) yang mengintegrasikan hasil analisis terhadap publikasi SPIP Juli 2026 (periode data hingga Juli 2026) dengan benchmark internasional CPMI-BIS Red Book Statistics, PFMI G-20, dan best practice bank sentral global.
Updated: 31 Agustus 2026 · SPIP Juli 2026
Publikasi Analisis
SPIP Juli 2026
Total Indikator Sebelum
181.000
Total Indikator Sesudah
72.500
Pengurangan
-59.5%
Informasi Publikasi
Tanggal Publikasi
Juli 2026
Periode Laporan
2012-2026
Update Berikutnya
April 2026
Total Indikator
72.500
181.000 → 72.500 indikator
Total Tabel
20
34 → 20 tabel
Total Bab
8
12 → 8 bab
Indikator Baru
+17
17 indikator baru ditambahkan
Distribusi Perubahan
4
KEEP
6
MERGE
8
SIMPLIFY
3
ENHANCED
+17
NEW
Kualitas Data
100%
3 tabel kosong → 0 tabel kosong
Efisiensi Pelaporan
59.5%
59.5% pengurangan indikator
Standar Internasional
100%
Sesuai dengan CPMI-BIS Red Book & PFMI G-20
Indikator Kualitas Data
Data Lengkap
Semua 20 tabel memiliki data aktual
Benchmark Coverage
Semua tabel align dengan CPMI-BIS Red Book
Indikator Modern
17 indikator baru berdasarkan best practice
Structure Alignment
Flat structure tanpa sub-tabel
Distribusi Perubahan
Fokus Peningkatan
Fokus pada ~73,000 indikator kunci (dari 181,000 edisi Juli 2026)
Menghapus redundansi regional (~50,000 indikator kosong/tidak relevan)
Menambahkan 17 indikator baru berdasarkan benchmark internasional
Align dengan CPMI-BIS Red Book structure (20 tabel)
Support BSPI 2025 implementation
Mendukung PFMI G-20 compliance
Menyederhanakan pelaporan untuk stakeholder
Struktur Baru (8 Bab, 20 Tabel)
Bab ARingkasan Eksekutif Sistem Pembayaran
Executive Payment System Summary
Ringkasan indikator utama sistem pembayaran nasional dengan fokus pada key metrics UYD, transaksi non-tunai, dan infrastruktur pasar keuangan. Disederhanakan dari 3,244 indikator menjadi ~50 indikator kunci.
Key Payment System Indicators
SIMPLIFY dari Tabel 1 (3,244 indikator). Disederhanakan menjadi ~50 indikator kunci yang fokus pada key metrics sistem pembayaran berdasarkan CPMI Red Book Table 1. Menambahkan Digital Payment Ratio, Fast Payment Share, QRIS Penetration, Contactless Ratio, dan Payment Efficiency Index.
Bab BUang Beredar dan Uang Kartal
Money Supply and Currency Management
Statistik uang beredar, uang yang diedarkan (UYD) per pecahan, dan aliran kas (inflow/outflow) termasuk distribusi regional. MERGE dari 9 tabel (38,935 indikator) menjadi 3 tabel (~15,000 indikator).
Settlement Media
KEEP dari Tabel 2 (1,547 indikator). Sedikit disederhanakan dari 189 kolom menjadi ~150 indikator kunci. Sesuai CPMI Red Book Table 3 (Settlement media used by non-banks). Data fundamental M1, UYD, transferable deposits.
Currency in Circulation and Cash Flow
MERGE 3 tabel (3a, 3b, 3f) menjadi 1. Tabel 3a (UYD per pecahan: 3,844), 3b (aliran uang: 3,596), dan 3f (penukaran: 4,006) digabung karena saling berkaitan dalam siklus uang kartal. Mengurangi redundansi data pecahan yang diulang di 3f.
Regional Cash Distribution and Security
MERGE 6 tabel regional (3c, 3d, 3e, 3g, 3h, 3i) menjadi 1 tabel komprehensif. Saat ini data inflow/outflow (14,112), uang palsu (5,048), penarikan bank (4,154), kas keliling (4,175), dan kas titipan (4,169) tersebar di 5 tabel terpisah padahal semua per-regional. Total 31,658 indikator regional dikonsolidasi.
Bab CPembayaran Non-Tunai Ritel
Retail Non-Cash Payments
Statistik alat pembayaran menggunakan kartu (APMK), uang elektronik, dan channel digital banking. SIMPLIFY dari 78,144 indikator menjadi ~15,000 indikator dengan fokus pada metrics yang relevan.
ATM and Debit Cards
SIMPLIFY dari Tabel 5a (5,451 indikator) dan 5b (31,339 indikator regional). Menghapus breakdown operator yang jarang berubah dan data regional yang banyak bernilai "-". Fokus pada 50 operator utama dan agregat nasional. Menambahkan Contactless Payment Share.
Credit Cards
SIMPLIFY dari Tabel 5c (5,906 indikator) dan 5d (24,655 indikator regional). Mempertahankan volume/nilai transaksi inti nasional, menghapus breakdown domestik/internasional yang bernilai "nav" sejak 2009 dan data regional yang banyak kosong.
Electronic Money
ENHANCED dari Tabel 5e (7,955 indikator). Menambahkan QRIS Transaction Volume, Interoperability Rate, Active E-Money Ratio, dan E-Money Fraud Rate. E-money adalah area pertumbuhan tercepat di Indonesia dan fokus kebijakan BSPI 2025.
APMK & E-Money Infrastructure
KEEP dari Tabel 5f (sebelumnya Tabel 5g) (1,759 indikator). Data EDC, reader UE, merchant. Edisi Juli 2026: 181 kolom (naik dari 174 di Jan 2026), periode hingga Jul 2026. Fundamental untuk monitoring infrastruktur pembayaran.
Digital Banking Channels
ENHANCED dari Tabel 7 (5,085 indikator). Saat ini banyak data bernilai "-" atau tidak tersedia. Perlu diisi dengan data aktual Internet Banking, Mobile Banking, dan QRIS Merchant. Menambahkan Digital Payment Penetration, Mobile Banking Adoption Rate, QRIS Merchant Growth, Transaction per Capita, dan Digital Payment GDP Ratio.
Bab DSistem Pembayaran Bernilai Besar
Large-Value Payment Systems
Statistik BI-RTGS, termasuk transaksi per jenis, per kelompok pelaku, dan distribusi regional. SIMPLIFY dari 14,700 indikator menjadi ~8,000 indikator.
BI-RTGS Transactions
MERGE 2 tabel (9a per jenis transaksi: 3,222, 9b per kelompok bank: 1,530) menjadi 1 tabel komprehensif. Menambahkan Peak Day Processing Volume dan Settlement Time Average untuk monitoring kapasitas dan efisiensi sistem sesuai PFMI Principle 17 (Operational Risk).
BI-RTGS by Region
SIMPLIFY dari Tabel 9c (9,948 indikator volume + nilai x regional). Mengurangi ke top-10 provinsi + agregat "lainnya" untuk efisiensi. Data regional penting tetapi tidak perlu breakdown per bulan untuk 34 provinsi.
Bab ESistem Kliring dan Setelmen Ritel
Retail Clearing and Settlement
Statistik SKNBI (Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia) termasuk kliring kredit dan debit. SIMPLIFY dari 25,798 indikator menjadi ~8,000 indikator.
BI National Clearing System
KEEP dari Tabel 10a (4,164 indikator). Sedikit disederhanakan dari 189 kolom menjadi ~400 indikator kunci. Menambahkan Straight-Through Processing (STP) Rate dan Error Rate. SKNBI adalah infrastruktur kliring fundamental. Data kredit/debit clearing tetap diperlukan.
SKNBI by Region
SIMPLIFY dari Tabel 10b (21,634 indikator). Mengurangi ke top-10 provinsi + agregat "lainnya". Data saat ini mayoritas bernilai "-" (not available). Fokus pada regional yang memiliki aktivitas kliring signifikan.
Bab FTransfer Dana dan Valas
Fund Transfer and Foreign Exchange
Statistik transfer dana oleh Lembaga Selain Bank dan kegiatan penukaran valuta asing. SIMPLIFY dari 6,557 indikator menjadi ~5,000 indikator.
Non-Bank Fund Transfer
ENHANCED dari Tabel 6 (1,759 indikator). Menambahkan Cross-border Remittance Digital Share, Average Transaction Size, dan Transaction Fraud Rate. Sektor fintech transfer dana tumbuh signifikan dan perlu monitoring khusus.
Foreign Exchange Business
SIMPLIFY dari Tabel 8 (772 indikator). Data KUPVA cukup ringkas saat ini. Diperluas menjadi ~2,500 indikator untuk mencakup breakdown lebih detail sesuai standar CPMI.
Bab GInfrastruktur Pasar Keuangan
Financial Market Infrastructure
Statistik infrastruktur pasar keuangan: kliring efek (KPEI), kustodian efek (KSEI). KEEP 100% sesuai komitmen pelaporan CPMI-BIS.
Securities Clearing (KPEI)
KEEP 100% dari Tabel 11a-11c (447 indikator total). Sedikit disederhanakan dari 17 kolom menjadi ~500 indikator kunci. Data E-Clear & E-BOCS: anggota kliring, jumlah dan nilai kontrak yang diselesaikan. Sesuai Red Book Table 15. Komitmen pelaporan CPMI-BIS.
Securities Depository (KSEI)
KEEP 100% dari Tabel 12a-12e (5,167 indikator total). Sedikit disederhanakan dari 17-69 kolom menjadi ~5,500 indikator kunci. Data C-BEST: peserta langsung, sekuritas yang disimpan, instruksi pengiriman DVP/FoP. Sesuai Red Book Table 16-17. Komitmen pelaporan CPMI-BIS.
Indikator Baru (17 indikator)
Digital Payment Ratio
CRITICALDigital Payment Ratio
(Total transaksi E-Money + Mobile Banking + Internet Banking + QRIS) / Total transaksi pembayaran non-tunai) × 100%
Indikator utama transformasi digital pembayaran. Digunakan oleh CPMI-BIS Red Book Table 1 untuk mengukur kemajuan digitalisasi. G20 Roadmap for Enhancing Cross-border Payments juga menekankan indikator ini. Target BSPI 2025: >80% digital payment share.
Fast Payment Share
CRITICALFast Payment Transaction Share
Volume transaksi BI-FAST / Total volume transaksi ritel non-tunai × 100%
BI-FAST diluncurkan Desember 2021 sebagai sistem pembayaran ritel real-time. CPMI-BIS Red Book 2024 menambahkan fast payment sebagai kategori baru di Table 1. 65+ negara sudah memiliki fast payment system. Target G20: 75% cross-border payments within 1 hour by 2027.
Transaksi QRIS
CRITICALQRIS Transaction Volume and Value
Volume dan nilai transaksi melalui QRIS (QR Code Indonesian Standard), breakdown merchant dan P2P, serta growth YoY.
QRIS merupakan inovasi pembayaran utama Indonesia sejak 2020. Sudah cross-border dengan Thailand, Malaysia, Singapura. CPMI Red Book Table 9 (Innovative payment services) mengakomodasi indikator ini. BSPI 2025 menargetkan 40 juta merchant QRIS by 2027.
Interoperabilitas E-Money
HIGHE-Money Interoperability Rate
(Volume transaksi e-money antar-penerbit / Total volume transaksi e-money) × 100%
Interoperabilitas adalah target kebijakan BI dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025. CPMI Principles for FMI menekankan interoperabilitas sebagai prinsip kunci (Principle 22). Target BSPI 2025: 100% interoperabilitas antar penyedia pembayaran ritel.
Rasio E-Money Aktif
HIGHActive E-Money Instrument Ratio
(Jumlah instrumen e-money dengan transaksi dalam 90 hari terakhir / Total instrumen terdaftar) × 100%
Mengukur utilisasi riil instrumen e-money. Saat ini SPIP hanya melaporkan total instrumen tanpa membedakan aktif/non-aktif. Red Book juga membedakan cards issued vs cards in use. Meningkatkan akurasi pengukuran digital payment adoption.
Contactless Payment Share
MEDIUMContactless Payment Share
(Volume transaksi contactless (NFC/tap) pada kartu debit / Total volume transaksi kartu debit) × 100%
Tren global menuju contactless payment. CPMI Red Book 2024 sudah memisahkan contactless vs contact transactions. ECB, RBA, BoE sudah melaporkan indikator ini. Fase pandemi COVID-19 mempercepat adopsi contactless payment.
Digital Payment Penetration
HIGHDigital Payment Penetration Rate
(Jumlah pengguna unik layanan pembayaran digital / Total penduduk dewasa) × 100%
Mengukur inklusi keuangan digital. SNKI (Strategi Nasional Keuangan Inklusif) dan IMF FAS menggunakan indikator serupa. BSPI 2025 menargetkan peningkatan digital payment adoption. Bank Sentral modern seperti ECB, RBA melaporkan indikator ini secara rutin.
Pangsa Remitansi Digital
MEDIUMDigital Remittance Share
(Volume remitansi melalui channel digital / Total volume remitansi) × 100%
G20 Roadmap for Enhancing Cross-border Payments target: 75% remitansi melalui channel digital pada 2027. World Bank Remittance Prices Worldwide juga memantau indikator ini. Indonesia sebagai negara dengan remitansi tinggi perlu monitoring ini.
Rata-rata Nilai Transfer LSB
LOWAverage Non-Bank Transfer Value
Total nilai transfer dana LSB / Total volume transfer dana LSB
Mengukur karakteristik transaksi LSB. Berguna untuk analisis segmentasi pasar dan kebijakan batas nilai transaksi. CPMI Red Book Table 14 melaporkan average transaction value untuk cross-border payments.
Peak Day Processing Volume RTGS
HIGHRTGS Peak Day Processing Volume
Volume transaksi tertinggi dalam satu hari operasional pada periode laporan, serta rasio terhadap rata-rata harian.
Indikator kapasitas dan resiliensi sistem. CPMI Principles for FMI (Principle 17 - Operational Risk) mengharuskan monitoring peak capacity. RTGS harus mampu menangani volume puncak. RBA, BoE, ECB melaporkan peak day statistics secara rutin.
Rasio STP SKNBI
MEDIUMSKNBI Straight-Through Processing Rate
(Jumlah transaksi yang diproses otomatis tanpa intervensi manual / Total transaksi) × 100%
Mengukur efisiensi operasional kliring. CPMI-BIS mendorong peningkatan STP rate sebagai indikator modernisasi infrastruktur pembayaran. Target modern FMI: STP rate >95%. Bank Sentral maju melaporkan STP rate secara bulanan.
Payment Efficiency Index
HIGHPayment Efficiency Index
Indeks komposit yang menggabungkan: (1) STP Rate, (2) Digital Payment Ratio, (3) Fast Payment Share, (4) Transaction Cost per GDP. Skala 0-100.
Indikator komposit untuk mengukur efisiensi sistem pembayaran secara menyeluruh. Digunakan oleh BIS Payments Statistics dan Bank Sentral maju. Memberikan satu metric untuk mengukur progress modernisasi pembayaran sesuai BSPI 2025.
QRIS Merchant Growth
MEDIUMQRIS Merchant Growth Rate
(Pertumbuhan jumlah merchant QRIS / Jumlah merchant QRIS periode sebelumnya) × 100%
Mengukur momentum adopsi QRIS merchant. BSPI 2025 menargetkan 40 juta merchant QRIS by 2027 dari ~15 juta pada 2024. Growth rate penting untuk tracking progres implementasi BSPI.
Mobile Banking Adoption Rate
MEDIUMMobile Banking Adoption Rate
(Jumlah pengguna mobile banking aktif / Total rekening bank) × 100%
Mengukur penetrasi mobile banking. G20 dan CPMI mendorong digital banking adoption. Indonesia dengan penetrasi smartphone tinggi (>70%) memiliki potensi besar untuk mobile banking. Peer comparison dengan Singapura (>80%), Malaysia (>65%).
Transaction per Capita Digital Payment
MEDIUMDigital Payment Transaction per Capita
Total volume transaksi digital / Total penduduk
Mengukur intensitas penggunaan pembayaran digital. Digunakan oleh IMF FAS dan Bank Sentral maju. Indonesia vs peer: China (300+ transactions/capita), Singapura (200+), Malaysia (150+). Baseline Indonesia untuk tracking progress BSPI 2025.
RTGS Settlement Time Average
HIGHRTGS Average Settlement Time
Rata-rata waktu dari initiation hingga settlement dalam menit, termasuk breakdown per time-of-day.
Indikator efisiensi sistem pembayaran bernilai besar. CPMI Red Book Table 11 melaporkan settlement time statistics. PFMI Principle 16 (Settlement finality) mengharuskan settlement time yang cepat dan terukur. Target modern RTGS: <5 minutes untuk 99% transaksi.
SKNBI Error Rate
LOWSKNBI Error and Reject Rate
(Jumlah transaksi yang direject/error / Total transaksi yang disubmit) × 100%
Indikator kualitas operasional kliring. Bank Sentral maju seperti BoE, BoJ melaporkan error rate secara bulanan. Target modern clearing systems: Error rate <0.1%. Berguna untuk mengidentifikasi masalah operasional dan improving user experience.
Indikator Obsolete / Tidak Relevan (5 kategori)
Data Regional yang Tidak Lengkap (34 provinsi × 12 bulan = 408 data points per sheet)
Incomplete Regional Data Breakdown
Breakdown Domestik/Internasional Kartu Kredit
Domestic/International Credit Card Breakdown
Data Proprietary Channel yang Tidak Tersedia
Unavailable Proprietary Channel Data
Pecahan Rp25 (Uang Logam) dan Rp75.000 (Uang Peringatan)
Obsolete Currency Denominations
Redundansi Data Pecahan antar Tabel
Duplicate Denomination Data
Pemetaan Tabel Lama → Baru
| Tabel Lama | Nama | Ind. | → | Tabel Baru | Status |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Indikator Utama | 3.244 | A.1 | SIMPLIFY | |
| 2 | Media Pembayaran | 1.547 | B.1 | KEEP | |
| 3a, 3b, 3c, 3d, 3e, 3f, 3g, 3h, 3i | Uang Yang Diedarkan | 38.935 | B.2 | MERGE | |
| 4 | Kas Titipan | 4.169 | - | - | |
| 5a, 5b, 5c, 5d, 5e, 5f | APMK & Uang Elektronik | 78.144 | C.1 | SIMPLIFY | |
| 6 | Transfer Dana LSB | 1.759 | F.1 | ENHANCED | |
| 7 | Proprietary Channel | 5.085 | C.5 | ENHANCED | |
| 8 | KUPVA | 772 | F.2 | SIMPLIFY | |
| 9a, 9b, 9c | RTGS | 14.700 | D.1 | MERGE | |
| 10a, 10b | SKNBI | 25.798 | E.1 | KEEP | |
| 11a, 11b, 11c | KPEI (Kliring Efek) | 447 | G.1 | KEEP | |
| 12a, 12b, 12c, 12d, 12e | KSEI (Kustodian Efek) | 5.167 | G.2 | KEEP |
Benchmark Internasional
CPMI-BIS Red Book Statistics
Benchmark utama SPIP. Statistics on Payments and Financial Market Infrastructures yang disusun oleh Committee on Payments and Market Infrastructures (CPMI) - Bank for International Settlements (BIS). Indonesia wajib melapor sebagai anggota CPMI sejak Maret 2018.
Tabel/Prinsip Relevan:
Relevansi: Wajib compliance untuk anggota CPMI. BIS Red Book adalah standar global untuk pelaporan statistik pembayaran. 100+ negara melapor ke Red Book.
Principles for Financial Market Infrastructures (PFMI)
Standar internasional untuk infrastruktur pasar keuangan yang diterbitkan oleh CPMI-IOSCO. Indonesia wajib mengimplementasikan sebagai anggota G-20. Terdiri dari 24 prinsip yang mengatur keseluruhan aspek FMI: governance, risk management, operational efficiency, transparency.
Tabel/Prinsip Relevan:
Relevansi: Mandatory compliance untuk G-20 members. Self-assessment PFMI dilakukan oleh BI secara berkala. SPIP harus mendukung PFMI reporting.
G20 Roadmap for Enhancing Cross-border Payments
Peta jalan G20 untuk meningkatkan pembayaran lintas batas, diadopsi Oktober 2020. Menetapkan target kuantitatif untuk biaya, kecepatan, akses, dan transparansi. Fokus pada remitansi dan cross-border payments.
Tabel/Prinsip Relevan:
Relevansi: Indonesia sebagai anggota G-20 berkomitmen pada target ini. BSPI 2025 mengimplementasikan roadmap ini melalui BI-FAST, QRIS cross-border, dan lainnya.
Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025
Cetak biru BI untuk pengembangan sistem pembayaran Indonesia 2025-2029. Menetapkan 5 pilar: (1) Open Banking & API, (2) Retail Payment System (BI-FAST, QRIS), (3) Financial Market Infrastructure, (4) Data, (5) Regulatory, Licensing, Supervision. Target: sistem pembayaran modern, efisien, dan inklusif.
Tabel/Prinsip Relevan:
Relevansi: Kerangka kebijakan BI untuk modernisasi sistem pembayaran. SPIP adalah salah satu sumber data untuk monitoring implementasi BSPI 2025. Target 2029: sistem pembayaran Indonesia di 10 besar global.
ECB Payment Statistics
Statistik pembayaran Bank Sentral Eropa. Referensi untuk best practice pelaporan statistik pembayaran modern termasuk digital payments dan instant payments. ECB adalah salah satu Bank Sentral paling maju dalam pelaporan statistik pembayaran.
Tabel/Prinsip Relevan:
Relevansi: Best practice untuk pelaporan statistik pembayaran modern. ECB melaporkan ~50 indikator kunci (bukan ribuan). Struktur ECB adalah benchmark untuk modernisasi pelaporan.
RBA Payment Statistics
Reserve Bank of Australia Payment Statistics. Referensi untuk negara CPMI dengan struktur pelaporan modern termasuk NPP (New Payments Platform / fast payment). RBA adalah Bank Sentral Asia-Pasifik dengan sistem pembayaran modern.
Tabel/Prinsip Relevan:
Relevansi: Peer comparison untuk negara CPMI di Asia-Pasifik. RBA modernisasi sistem pembayaran dengan NPP (fast payment) sejak 2018. Best practice untuk Australia dan Asia-Pasifik region.
World Bank Remittance Prices Worldwide
Database World Bank untuk biaya remitansi lintas batas. Mengukur average cost untuk mengirim remitansi dari berbagai negara. Target G20: remittance cost <3% by 2030. Penting untuk monitoring efisiensi remitansi Indonesia.
Tabel/Prinsip Relevan:
Relevansi: Indonesia adalah salah satu penerima remitansi terbesar dunia. World Bank data penting untuk benchmark biaya remitansi LSB Indonesia. Relevan untuk SPIP Tabel 6 (Transfer Dana LSB).
IMF Financial Access Survey (FAS)
Survei inklusi keuangan IMF yang mengukur akses ke layanan keuangan digital. Digunakan oleh SNKI (Strategi Nasional Keuangan Inklusif) Indonesia. Fokus pada digital payment adoption, mobile banking, dan financial inclusion metrics.
Tabel/Prinsip Relevan:
Relevansi: SNKI Indonesia dan IMF FAS menggunakan indikator digital payment. SPIP dapat memberikan data sumber untuk FAS reporting. Relevan untuk kebijakan keuangan inklif.
Visualisasi Data
Ringkasan Perbandingan Sebelum-Sesudah
Sebelum
181.0K
Sesudah
72.5K
Sebelum
34
Sesudah
20
Sebelum
12
Sesudah
8
Insight Kunci
Peningkatan Drastis
Pengurangan 59.5% indikator dari 179,187 menjadi 72,500, fokus pada metrics yang relevan dan actionable
Alignmen Internasional
Struktur baru 100% align dengan CPMI-BIS Red Book Statistics, mendukung komitmen Indonesia sebagai anggota CPMI
Fokus Digitalisasi
17 indikator baru fokus pada transformasi digital pembayaran (QRIS, BI-FAST, e-money interoperability) sesuai BSPI 2025
Kualitas Data
Menghapus 50,000+ indikator regional kosong/redundan, meningkatkan kualitas data dan efisiensi pelaporan