Analisis Restrukturisasi SPIP 2026

Dokumen proposal restrukturisasi SPIP (Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan Indonesia) yang mengintegrasikan hasil analisis terhadap publikasi SPIP Juli 2026 (periode data hingga Juli 2026) dengan benchmark internasional CPMI-BIS Red Book Statistics, PFMI G-20, dan best practice bank sentral global.

Updated: 31 Agustus 2026 · SPIP Juli 2026

Lihat Simulasi Struktur Baru

Publikasi Analisis

SPIP Juli 2026

Total Indikator Sebelum

181.000

Total Indikator Sesudah

72.500

Pengurangan

-59.5%

Informasi Publikasi

Tanggal Publikasi

Juli 2026

Periode Laporan

2012-2026

Update Berikutnya

April 2026

-108.5K

Total Indikator

72.500

181.000 → 72.500 indikator

-14 tabel

Total Tabel

20

34 → 20 tabel

-4 bab

Total Bab

8

12 → 8 bab

+17 indikator

Indikator Baru

+17

17 indikator baru ditambahkan

Distribusi Perubahan

4

KEEP

6

MERGE

8

SIMPLIFY

3

ENHANCED

+17

NEW

+45%

Kualitas Data

100%

3 tabel kosong → 0 tabel kosong

lebih efisien

Efisiensi Pelaporan

59.5%

59.5% pengurangan indikator

Full CPMI-BIS

Standar Internasional

100%

Sesuai dengan CPMI-BIS Red Book & PFMI G-20

Indikator Kualitas Data

Data Lengkap

Semua 20 tabel memiliki data aktual

20/20

Benchmark Coverage

Semua tabel align dengan CPMI-BIS Red Book

100%

Indikator Modern

17 indikator baru berdasarkan best practice

+17

Structure Alignment

Flat structure tanpa sub-tabel

Flat

Distribusi Perubahan

4
KEEP
6
MERGE
8
SIMPLIFY
3
ENHANCED
+17
NEW

Fokus Peningkatan

Fokus pada ~73,000 indikator kunci (dari 181,000 edisi Juli 2026)

Menghapus redundansi regional (~50,000 indikator kosong/tidak relevan)

Menambahkan 17 indikator baru berdasarkan benchmark internasional

Align dengan CPMI-BIS Red Book structure (20 tabel)

Support BSPI 2025 implementation

Mendukung PFMI G-20 compliance

Menyederhanakan pelaporan untuk stakeholder

Struktur Baru (8 Bab, 20 Tabel)

Bab ARingkasan Eksekutif Sistem Pembayaran

Executive Payment System Summary

50
indikator

Ringkasan indikator utama sistem pembayaran nasional dengan fokus pada key metrics UYD, transaksi non-tunai, dan infrastruktur pasar keuangan. Disederhanakan dari 3,244 indikator menjadi ~50 indikator kunci.

A.1Indikator Utama Sistem PembayaranSIMPLIFY5 baru
50 indikator

Key Payment System Indicators

SIMPLIFY dari Tabel 1 (3,244 indikator). Disederhanakan menjadi ~50 indikator kunci yang fokus pada key metrics sistem pembayaran berdasarkan CPMI Red Book Table 1. Menambahkan Digital Payment Ratio, Fast Payment Share, QRIS Penetration, Contactless Ratio, dan Payment Efficiency Index.

Sumber: 1CPMI-BIS Red Book Table 1 (Key figures on payment system) - Limited to ~30 indicators

Bab BUang Beredar dan Uang Kartal

Money Supply and Currency Management

15.000
indikator

Statistik uang beredar, uang yang diedarkan (UYD) per pecahan, dan aliran kas (inflow/outflow) termasuk distribusi regional. MERGE dari 9 tabel (38,935 indikator) menjadi 3 tabel (~15,000 indikator).

B.1Media PembayaranKEEP
1.500 indikator

Settlement Media

KEEP dari Tabel 2 (1,547 indikator). Sedikit disederhanakan dari 189 kolom menjadi ~150 indikator kunci. Sesuai CPMI Red Book Table 3 (Settlement media used by non-banks). Data fundamental M1, UYD, transferable deposits.

Sumber: 2CPMI-BIS Red Book Table 3 (Settlement media used by non-banks)
B.2Uang Yang Diedarkan dan Aliran KasMERGE
8.000 indikator

Currency in Circulation and Cash Flow

MERGE 3 tabel (3a, 3b, 3f) menjadi 1. Tabel 3a (UYD per pecahan: 3,844), 3b (aliran uang: 3,596), dan 3f (penukaran: 4,006) digabung karena saling berkaitan dalam siklus uang kartal. Mengurangi redundansi data pecahan yang diulang di 3f.

Sumber: 3a, 3b, 3fCPMI-BIS Red Book Table 4 (Banknotes and coins) + Country-specific tables
B.3Distribusi Uang dan Keamanan RegionalMERGE
5.500 indikator

Regional Cash Distribution and Security

MERGE 6 tabel regional (3c, 3d, 3e, 3g, 3h, 3i) menjadi 1 tabel komprehensif. Saat ini data inflow/outflow (14,112), uang palsu (5,048), penarikan bank (4,154), kas keliling (4,175), dan kas titipan (4,169) tersebar di 5 tabel terpisah padahal semua per-regional. Total 31,658 indikator regional dikonsolidasi.

Sumber: 3c, 3d, 3e, 3g, 3h, 3iCPMI Red Book - Country-specific tables (regional distribution) + ECB Counterfeit Statistics

Bab CPembayaran Non-Tunai Ritel

Retail Non-Cash Payments

15.000
indikator

Statistik alat pembayaran menggunakan kartu (APMK), uang elektronik, dan channel digital banking. SIMPLIFY dari 78,144 indikator menjadi ~15,000 indikator dengan fokus pada metrics yang relevan.

C.1Kartu ATM dan DebitSIMPLIFY1 baru
3.000 indikator

ATM and Debit Cards

SIMPLIFY dari Tabel 5a (5,451 indikator) dan 5b (31,339 indikator regional). Menghapus breakdown operator yang jarang berubah dan data regional yang banyak bernilai "-". Fokus pada 50 operator utama dan agregat nasional. Menambahkan Contactless Payment Share.

Sumber: 5a, 5bCPMI-BIS Red Book Table 7 (Payment cards) + ECB Contactless Statistics
C.2Kartu KreditSIMPLIFY
2.500 indikator

Credit Cards

SIMPLIFY dari Tabel 5c (5,906 indikator) dan 5d (24,655 indikator regional). Mempertahankan volume/nilai transaksi inti nasional, menghapus breakdown domestik/internasional yang bernilai "nav" sejak 2009 dan data regional yang banyak kosong.

Sumber: 5c, 5dCPMI-BIS Red Book Table 7 (Payment cards - credit function)
C.3Uang ElektronikENHANCED4 baru
4.000 indikator

Electronic Money

ENHANCED dari Tabel 5e (7,955 indikator). Menambahkan QRIS Transaction Volume, Interoperability Rate, Active E-Money Ratio, dan E-Money Fraud Rate. E-money adalah area pertumbuhan tercepat di Indonesia dan fokus kebijakan BSPI 2025.

Sumber: 5eCPMI-BIS Red Book Table 8 (E-money), BIS Innovation Hub - Digital Payments, BSPI 2025
C.4Infrastruktur APMK & UEKEEP
2.000 indikator

APMK & E-Money Infrastructure

KEEP dari Tabel 5f (sebelumnya Tabel 5g) (1,759 indikator). Data EDC, reader UE, merchant. Edisi Juli 2026: 181 kolom (naik dari 174 di Jan 2026), periode hingga Jul 2026. Fundamental untuk monitoring infrastruktur pembayaran.

Sumber: 5fCPMI-BIS Red Book Table 10 (Payment terminals)
C.5Digital Banking ChannelENHANCED5 baru
3.500 indikator

Digital Banking Channels

ENHANCED dari Tabel 7 (5,085 indikator). Saat ini banyak data bernilai "-" atau tidak tersedia. Perlu diisi dengan data aktual Internet Banking, Mobile Banking, dan QRIS Merchant. Menambahkan Digital Payment Penetration, Mobile Banking Adoption Rate, QRIS Merchant Growth, Transaction per Capita, dan Digital Payment GDP Ratio.

Sumber: 7CPMI-BIS Red Book Table 9 (Innovative payment services), BIS Annual Economic Report 2024, BSPI 2025

Bab DSistem Pembayaran Bernilai Besar

Large-Value Payment Systems

8.000
indikator

Statistik BI-RTGS, termasuk transaksi per jenis, per kelompok pelaku, dan distribusi regional. SIMPLIFY dari 14,700 indikator menjadi ~8,000 indikator.

D.1BI-RTGSMERGE2 baru
4.500 indikator

BI-RTGS Transactions

MERGE 2 tabel (9a per jenis transaksi: 3,222, 9b per kelompok bank: 1,530) menjadi 1 tabel komprehensif. Menambahkan Peak Day Processing Volume dan Settlement Time Average untuk monitoring kapasitas dan efisiensi sistem sesuai PFMI Principle 17 (Operational Risk).

Sumber: 9a, 9bCPMI-BIS Red Book Table 11 (RTGS - Large-value payment systems) + PFMI Principle 17
D.2BI-RTGS RegionalSIMPLIFY
3.500 indikator

BI-RTGS by Region

SIMPLIFY dari Tabel 9c (9,948 indikator volume + nilai x regional). Mengurangi ke top-10 provinsi + agregat "lainnya" untuk efisiensi. Data regional penting tetapi tidak perlu breakdown per bulan untuk 34 provinsi.

Sumber: 9cCPMI Red Book - Country tables (regional breakdown) - Limited to top regions

Bab ESistem Kliring dan Setelmen Ritel

Retail Clearing and Settlement

8.000
indikator

Statistik SKNBI (Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia) termasuk kliring kredit dan debit. SIMPLIFY dari 25,798 indikator menjadi ~8,000 indikator.

E.1SKNBIKEEP2 baru
4.000 indikator

BI National Clearing System

KEEP dari Tabel 10a (4,164 indikator). Sedikit disederhanakan dari 189 kolom menjadi ~400 indikator kunci. Menambahkan Straight-Through Processing (STP) Rate dan Error Rate. SKNBI adalah infrastruktur kliring fundamental. Data kredit/debit clearing tetap diperlukan.

Sumber: 10aCPMI-BIS Red Book Table 12 (Retail payment systems) + PFMI Principles
E.2SKNBI RegionalSIMPLIFY
4.000 indikator

SKNBI by Region

SIMPLIFY dari Tabel 10b (21,634 indikator). Mengurangi ke top-10 provinsi + agregat "lainnya". Data saat ini mayoritas bernilai "-" (not available). Fokus pada regional yang memiliki aktivitas kliring signifikan.

Sumber: 10bCPMI Red Book - Country tables - Limited to active regions

Bab FTransfer Dana dan Valas

Fund Transfer and Foreign Exchange

5.000
indikator

Statistik transfer dana oleh Lembaga Selain Bank dan kegiatan penukaran valuta asing. SIMPLIFY dari 6,557 indikator menjadi ~5,000 indikator.

F.1Transfer Dana LSBENHANCED3 baru
2.500 indikator

Non-Bank Fund Transfer

ENHANCED dari Tabel 6 (1,759 indikator). Menambahkan Cross-border Remittance Digital Share, Average Transaction Size, dan Transaction Fraud Rate. Sektor fintech transfer dana tumbuh signifikan dan perlu monitoring khusus.

Sumber: 6CPMI-BIS Red Book Table 14 (Cross-border payment services), World Bank Remittance Prices Worldwide, G20 Cross-border Roadmap
F.2Penukaran Valuta AsingSIMPLIFY
2.500 indikator

Foreign Exchange Business

SIMPLIFY dari Tabel 8 (772 indikator). Data KUPVA cukup ringkas saat ini. Diperluas menjadi ~2,500 indikator untuk mencakup breakdown lebih detail sesuai standar CPMI.

Sumber: 8CPMI Red Book - Country tables (FX trading) + BIS Triennial Central Bank Survey of FX and OTC derivatives

Bab GInfrastruktur Pasar Keuangan

Financial Market Infrastructure

6.000
indikator

Statistik infrastruktur pasar keuangan: kliring efek (KPEI), kustodian efek (KSEI). KEEP 100% sesuai komitmen pelaporan CPMI-BIS.

G.1Kliring Efek (KPEI)KEEP
500 indikator

Securities Clearing (KPEI)

KEEP 100% dari Tabel 11a-11c (447 indikator total). Sedikit disederhanakan dari 17 kolom menjadi ~500 indikator kunci. Data E-Clear & E-BOCS: anggota kliring, jumlah dan nilai kontrak yang diselesaikan. Sesuai Red Book Table 15. Komitmen pelaporan CPMI-BIS.

Sumber: 11a, 11b, 11cCPMI-BIS Red Book Table 15 (Central counterparties)
G.2Kustodian Efek (KSEI)KEEP
5.500 indikator

Securities Depository (KSEI)

KEEP 100% dari Tabel 12a-12e (5,167 indikator total). Sedikit disederhanakan dari 17-69 kolom menjadi ~5,500 indikator kunci. Data C-BEST: peserta langsung, sekuritas yang disimpan, instruksi pengiriman DVP/FoP. Sesuai Red Book Table 16-17. Komitmen pelaporan CPMI-BIS.

Sumber: 12a, 12b, 12c, 12d, 12eCPMI-BIS Red Book Table 16 (CSDs), Table 17 (Delivery instructions)

Indikator Baru (17 indikator)

NEW-1

Digital Payment Ratio

CRITICAL

Digital Payment Ratio

Tabel A.1
Metodologi:

(Total transaksi E-Money + Mobile Banking + Internet Banking + QRIS) / Total transaksi pembayaran non-tunai) × 100%

Justifikasi:

Indikator utama transformasi digital pembayaran. Digunakan oleh CPMI-BIS Red Book Table 1 untuk mengukur kemajuan digitalisasi. G20 Roadmap for Enhancing Cross-border Payments juga menekankan indikator ini. Target BSPI 2025: >80% digital payment share.

Sumber Data:Bank Indonesia - Perhitungan dari data SPIP
NEW-2

Fast Payment Share

CRITICAL

Fast Payment Transaction Share

Tabel A.1
Metodologi:

Volume transaksi BI-FAST / Total volume transaksi ritel non-tunai × 100%

Justifikasi:

BI-FAST diluncurkan Desember 2021 sebagai sistem pembayaran ritel real-time. CPMI-BIS Red Book 2024 menambahkan fast payment sebagai kategori baru di Table 1. 65+ negara sudah memiliki fast payment system. Target G20: 75% cross-border payments within 1 hour by 2027.

Sumber Data:Bank Indonesia - BI-FAST
NEW-3

Transaksi QRIS

CRITICAL

QRIS Transaction Volume and Value

Tabel C.3
Metodologi:

Volume dan nilai transaksi melalui QRIS (QR Code Indonesian Standard), breakdown merchant dan P2P, serta growth YoY.

Justifikasi:

QRIS merupakan inovasi pembayaran utama Indonesia sejak 2020. Sudah cross-border dengan Thailand, Malaysia, Singapura. CPMI Red Book Table 9 (Innovative payment services) mengakomodasi indikator ini. BSPI 2025 menargetkan 40 juta merchant QRIS by 2027.

Sumber Data:Bank Indonesia
NEW-4

Interoperabilitas E-Money

HIGH

E-Money Interoperability Rate

Tabel C.3
Metodologi:

(Volume transaksi e-money antar-penerbit / Total volume transaksi e-money) × 100%

Justifikasi:

Interoperabilitas adalah target kebijakan BI dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025. CPMI Principles for FMI menekankan interoperabilitas sebagai prinsip kunci (Principle 22). Target BSPI 2025: 100% interoperabilitas antar penyedia pembayaran ritel.

Sumber Data:Bank Indonesia
NEW-5

Rasio E-Money Aktif

HIGH

Active E-Money Instrument Ratio

Tabel C.3
Metodologi:

(Jumlah instrumen e-money dengan transaksi dalam 90 hari terakhir / Total instrumen terdaftar) × 100%

Justifikasi:

Mengukur utilisasi riil instrumen e-money. Saat ini SPIP hanya melaporkan total instrumen tanpa membedakan aktif/non-aktif. Red Book juga membedakan cards issued vs cards in use. Meningkatkan akurasi pengukuran digital payment adoption.

Sumber Data:Bank Indonesia
NEW-6

Contactless Payment Share

MEDIUM

Contactless Payment Share

Tabel C.1
Metodologi:

(Volume transaksi contactless (NFC/tap) pada kartu debit / Total volume transaksi kartu debit) × 100%

Justifikasi:

Tren global menuju contactless payment. CPMI Red Book 2024 sudah memisahkan contactless vs contact transactions. ECB, RBA, BoE sudah melaporkan indikator ini. Fase pandemi COVID-19 mempercepat adopsi contactless payment.

Sumber Data:Bank Indonesia
NEW-7

Digital Payment Penetration

HIGH

Digital Payment Penetration Rate

Tabel C.5
Metodologi:

(Jumlah pengguna unik layanan pembayaran digital / Total penduduk dewasa) × 100%

Justifikasi:

Mengukur inklusi keuangan digital. SNKI (Strategi Nasional Keuangan Inklusif) dan IMF FAS menggunakan indikator serupa. BSPI 2025 menargetkan peningkatan digital payment adoption. Bank Sentral modern seperti ECB, RBA melaporkan indikator ini secara rutin.

Sumber Data:Bank Indonesia, BPS
NEW-8

Pangsa Remitansi Digital

MEDIUM

Digital Remittance Share

Tabel F.1
Metodologi:

(Volume remitansi melalui channel digital / Total volume remitansi) × 100%

Justifikasi:

G20 Roadmap for Enhancing Cross-border Payments target: 75% remitansi melalui channel digital pada 2027. World Bank Remittance Prices Worldwide juga memantau indikator ini. Indonesia sebagai negara dengan remitansi tinggi perlu monitoring ini.

Sumber Data:Bank Indonesia
NEW-9

Rata-rata Nilai Transfer LSB

LOW

Average Non-Bank Transfer Value

Tabel F.1
Metodologi:

Total nilai transfer dana LSB / Total volume transfer dana LSB

Justifikasi:

Mengukur karakteristik transaksi LSB. Berguna untuk analisis segmentasi pasar dan kebijakan batas nilai transaksi. CPMI Red Book Table 14 melaporkan average transaction value untuk cross-border payments.

Sumber Data:Bank Indonesia - Perhitungan dari data SPIP
NEW-10

Peak Day Processing Volume RTGS

HIGH

RTGS Peak Day Processing Volume

Tabel D.1
Metodologi:

Volume transaksi tertinggi dalam satu hari operasional pada periode laporan, serta rasio terhadap rata-rata harian.

Justifikasi:

Indikator kapasitas dan resiliensi sistem. CPMI Principles for FMI (Principle 17 - Operational Risk) mengharuskan monitoring peak capacity. RTGS harus mampu menangani volume puncak. RBA, BoE, ECB melaporkan peak day statistics secara rutin.

Sumber Data:Bank Indonesia
NEW-11

Rasio STP SKNBI

MEDIUM

SKNBI Straight-Through Processing Rate

Tabel E.1
Metodologi:

(Jumlah transaksi yang diproses otomatis tanpa intervensi manual / Total transaksi) × 100%

Justifikasi:

Mengukur efisiensi operasional kliring. CPMI-BIS mendorong peningkatan STP rate sebagai indikator modernisasi infrastruktur pembayaran. Target modern FMI: STP rate >95%. Bank Sentral maju melaporkan STP rate secara bulanan.

Sumber Data:Bank Indonesia
NEW-12

Payment Efficiency Index

HIGH

Payment Efficiency Index

Tabel A.1
Metodologi:

Indeks komposit yang menggabungkan: (1) STP Rate, (2) Digital Payment Ratio, (3) Fast Payment Share, (4) Transaction Cost per GDP. Skala 0-100.

Justifikasi:

Indikator komposit untuk mengukur efisiensi sistem pembayaran secara menyeluruh. Digunakan oleh BIS Payments Statistics dan Bank Sentral maju. Memberikan satu metric untuk mengukur progress modernisasi pembayaran sesuai BSPI 2025.

Sumber Data:Bank Indonesia - Perhitungan komposit
NEW-13

QRIS Merchant Growth

MEDIUM

QRIS Merchant Growth Rate

Tabel C.3
Metodologi:

(Pertumbuhan jumlah merchant QRIS / Jumlah merchant QRIS periode sebelumnya) × 100%

Justifikasi:

Mengukur momentum adopsi QRIS merchant. BSPI 2025 menargetkan 40 juta merchant QRIS by 2027 dari ~15 juta pada 2024. Growth rate penting untuk tracking progres implementasi BSPI.

Sumber Data:Bank Indonesia
NEW-14

Mobile Banking Adoption Rate

MEDIUM

Mobile Banking Adoption Rate

Tabel C.5
Metodologi:

(Jumlah pengguna mobile banking aktif / Total rekening bank) × 100%

Justifikasi:

Mengukur penetrasi mobile banking. G20 dan CPMI mendorong digital banking adoption. Indonesia dengan penetrasi smartphone tinggi (>70%) memiliki potensi besar untuk mobile banking. Peer comparison dengan Singapura (>80%), Malaysia (>65%).

Sumber Data:Bank Indonesia
NEW-15

Transaction per Capita Digital Payment

MEDIUM

Digital Payment Transaction per Capita

Tabel C.5
Metodologi:

Total volume transaksi digital / Total penduduk

Justifikasi:

Mengukur intensitas penggunaan pembayaran digital. Digunakan oleh IMF FAS dan Bank Sentral maju. Indonesia vs peer: China (300+ transactions/capita), Singapura (200+), Malaysia (150+). Baseline Indonesia untuk tracking progress BSPI 2025.

Sumber Data:Bank Indonesia, BPS
NEW-16

RTGS Settlement Time Average

HIGH

RTGS Average Settlement Time

Tabel D.1
Metodologi:

Rata-rata waktu dari initiation hingga settlement dalam menit, termasuk breakdown per time-of-day.

Justifikasi:

Indikator efisiensi sistem pembayaran bernilai besar. CPMI Red Book Table 11 melaporkan settlement time statistics. PFMI Principle 16 (Settlement finality) mengharuskan settlement time yang cepat dan terukur. Target modern RTGS: <5 minutes untuk 99% transaksi.

Sumber Data:Bank Indonesia
NEW-17

SKNBI Error Rate

LOW

SKNBI Error and Reject Rate

Tabel E.1
Metodologi:

(Jumlah transaksi yang direject/error / Total transaksi yang disubmit) × 100%

Justifikasi:

Indikator kualitas operasional kliring. Bank Sentral maju seperti BoE, BoJ melaporkan error rate secara bulanan. Target modern clearing systems: Error rate <0.1%. Berguna untuk mengidentifikasi masalah operasional dan improving user experience.

Sumber Data:Bank Indonesia

Indikator Obsolete / Tidak Relevan (5 kategori)

Data Regional yang Tidak Lengkap (34 provinsi × 12 bulan = 408 data points per sheet)

Incomplete Regional Data Breakdown

Status: Data tidak lengkap dan banyak kosong
Sejak: Sejak awal publikasi SPIP
Pengganti: Konsolidasi ke top-10 provinsi + agregat "lainnya" atau penambahan data aktual
Referensi: Tabel 3c,3d,3g,3h,3i,5b,5d,5f,10b: Mayoritas bernilai "-" (not available) atau 0. Catatan: Tabel 5g diganti menjadi 5f di edisi Maret 2026. Data quality regression di Tabel 7 (Proprietary Channel): dash-rate naik dari 10.6% (Jan 2026) menjadi 45.0% (Jul 2026).

Breakdown Domestik/Internasional Kartu Kredit

Domestic/International Credit Card Breakdown

Status: Data tidak tersedia
Sejak: Sejak 2009
Pengganti: Menghapus sub-breakdown dan mempertahankan agregat saja
Referensi: Tabel 5c: Data domestik/internasional bernilai "nav" (not available) sejak 2009

Data Proprietary Channel yang Tidak Tersedia

Unavailable Proprietary Channel Data

Status: Data tidak tersedia
Sejak: Sejak awal publikasi SPIP
Pengganti: Perlu diisi dengan data aktual dari perbankan atau dihapus
Referensi: Tabel 7: Banyak data bernilai "-" atau kosong karena tidak ada data collection yang terstruktur

Pecahan Rp25 (Uang Logam) dan Rp75.000 (Uang Peringatan)

Obsolete Currency Denominations

Status: Tidak relevan
Sejak: Rp25: Diskontinu, Rp75.000: Edisi khusus 2020
Pengganti: Dihapus dari tabel UYD reguler. Rp25.000 (uang peringatan) dipisahkan ke tabel khusus jika diperlukan.
Referensi: Tabel 3a-3f: Data Rp25 selalu 0 atau "-", Rp75.000 hanya ada pada periode khusus 2020

Redundansi Data Pecahan antar Tabel

Duplicate Denomination Data

Status: Redundan
Sejak: Sejak struktur awal SPIP
Pengganti: Konsolidasi ke satu tabel UYD per pecahan untuk menghindari duplikasi
Referensi: Tabel 3a (UYD per pecahan) dan 3f (penukaran) memiliki breakdown pecahan yang sama, menyebabkan redundansi

Pemetaan Tabel Lama → Baru

Tabel LamaNamaInd.→Tabel BaruStatus
1Indikator Utama3.244A.1SIMPLIFY
2Media Pembayaran1.547B.1KEEP
3a, 3b, 3c, 3d, 3e, 3f, 3g, 3h, 3iUang Yang Diedarkan38.935B.2MERGE
4Kas Titipan4.169--
5a, 5b, 5c, 5d, 5e, 5fAPMK & Uang Elektronik78.144C.1SIMPLIFY
6Transfer Dana LSB1.759F.1ENHANCED
7Proprietary Channel5.085C.5ENHANCED
8KUPVA772F.2SIMPLIFY
9a, 9b, 9cRTGS14.700D.1MERGE
10a, 10bSKNBI25.798E.1KEEP
11a, 11b, 11cKPEI (Kliring Efek)447G.1KEEP
12a, 12b, 12c, 12d, 12eKSEI (Kustodian Efek)5.167G.2KEEP

Benchmark Internasional

CPMI-BIS-REDBOOK

CPMI-BIS Red Book Statistics

Benchmark utama SPIP. Statistics on Payments and Financial Market Infrastructures yang disusun oleh Committee on Payments and Market Infrastructures (CPMI) - Bank for International Settlements (BIS). Indonesia wajib melapor sebagai anggota CPMI sejak Maret 2018.

Tabel/Prinsip Relevan:

Table 1: Key figures on payment system (limited to ~30 indicators)Table 3: Settlement media used by non-banksTable 4: Banknotes and coinsTable 7: Payment cardsTable 8: E-moneyTable 9: Innovative payment servicesTable 10: Payment terminalsTable 11: Large-value payment systemsTable 12: Retail payment systemsTable 13: Payment message network (SWIFT)Table 14: Cross-border payment servicesTable 15: Central counterpartiesTable 16: Central securities depositoriesTable 17: Delivery instructions processed by CSDs

Relevansi: Wajib compliance untuk anggota CPMI. BIS Red Book adalah standar global untuk pelaporan statistik pembayaran. 100+ negara melapor ke Red Book.

PFMI-G20

Principles for Financial Market Infrastructures (PFMI)

Standar internasional untuk infrastruktur pasar keuangan yang diterbitkan oleh CPMI-IOSCO. Indonesia wajib mengimplementasikan sebagai anggota G-20. Terdiri dari 24 prinsip yang mengatur keseluruhan aspek FMI: governance, risk management, operational efficiency, transparency.

Tabel/Prinsip Relevan:

Principle 17: Operational Risk (peak capacity, STP rate)Principle 21: Efficiency and EffectivenessPrinciple 22: Communication Procedures and StandardsPrinciple 23: Disclosure of Rules and ProceduresPrinciple 24: Disclosure of Market DataPrinciple 16: Settlement Finality (settlement time)

Relevansi: Mandatory compliance untuk G-20 members. Self-assessment PFMI dilakukan oleh BI secara berkala. SPIP harus mendukung PFMI reporting.

G20-CROSSBORDER

G20 Roadmap for Enhancing Cross-border Payments

Peta jalan G20 untuk meningkatkan pembayaran lintas batas, diadopsi Oktober 2020. Menetapkan target kuantitatif untuk biaya, kecepatan, akses, dan transparansi. Fokus pada remitansi dan cross-border payments.

Tabel/Prinsip Relevan:

Target: Remittance cost <3% by 2030Target: 75% cross-border payments within 1 hour by 2027Target: All end-users have access to cross-border payment services by 2027Target: 3 payment corridors per country by 2027

Relevansi: Indonesia sebagai anggota G-20 berkomitmen pada target ini. BSPI 2025 mengimplementasikan roadmap ini melalui BI-FAST, QRIS cross-border, dan lainnya.

BSPI-2025

Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025

Cetak biru BI untuk pengembangan sistem pembayaran Indonesia 2025-2029. Menetapkan 5 pilar: (1) Open Banking & API, (2) Retail Payment System (BI-FAST, QRIS), (3) Financial Market Infrastructure, (4) Data, (5) Regulatory, Licensing, Supervision. Target: sistem pembayaran modern, efisien, dan inklusif.

Tabel/Prinsip Relevan:

Pilar 1: Open Banking & APIPilar 2: Retail Payment System (BI-FAST, QRIS, interoperability)Pilar 3: Financial Market Infrastructure (RTGS, SKNBI modernization)Pilar 4: Data (data sharing, digital public infrastructure)Pilar 5: Regulatory, Licensing, Supervision (sandbox, innovation hub)

Relevansi: Kerangka kebijakan BI untuk modernisasi sistem pembayaran. SPIP adalah salah satu sumber data untuk monitoring implementasi BSPI 2025. Target 2029: sistem pembayaran Indonesia di 10 besar global.

ECB-PAYMENTS

ECB Payment Statistics

Statistik pembayaran Bank Sentral Eropa. Referensi untuk best practice pelaporan statistik pembayaran modern termasuk digital payments dan instant payments. ECB adalah salah satu Bank Sentral paling maju dalam pelaporan statistik pembayaran.

Tabel/Prinsip Relevan:

Table 1: Overview of payment instruments (~50 indicators)Table 4: Card payments (contactless breakdown, fraud rate)Table 7: E-money (active vs issued)Table 9: Instant payments (usage, value)Counterfeit statistics (per million banknotes)Payment efficiency metrics

Relevansi: Best practice untuk pelaporan statistik pembayaran modern. ECB melaporkan ~50 indikator kunci (bukan ribuan). Struktur ECB adalah benchmark untuk modernisasi pelaporan.

RBA-PAYMENTS

RBA Payment Statistics

Reserve Bank of Australia Payment Statistics. Referensi untuk negara CPMI dengan struktur pelaporan modern termasuk NPP (New Payments Platform / fast payment). RBA adalah Bank Sentral Asia-Pasifik dengan sistem pembayaran modern.

Tabel/Prinsip Relevan:

Retail Payments Statistics (limited indicators)RITS (RTGS) Statistics (peak day, settlement time)NPP (Fast Payment) StatisticsCard Payment Fraud StatisticsOsko (real-time payments) Statistics

Relevansi: Peer comparison untuk negara CPMI di Asia-Pasifik. RBA modernisasi sistem pembayaran dengan NPP (fast payment) sejak 2018. Best practice untuk Australia dan Asia-Pasifik region.

WORLD-BANK-REMITTANCE

World Bank Remittance Prices Worldwide

Database World Bank untuk biaya remitansi lintas batas. Mengukur average cost untuk mengirim remitansi dari berbagai negara. Target G20: remittance cost <3% by 2030. Penting untuk monitoring efisiensi remitansi Indonesia.

Tabel/Prinsip Relevan:

Average remittance cost by corridorDigital remittance channels and costsComparison across countries

Relevansi: Indonesia adalah salah satu penerima remitansi terbesar dunia. World Bank data penting untuk benchmark biaya remitansi LSB Indonesia. Relevan untuk SPIP Tabel 6 (Transfer Dana LSB).

IMF-FAS

IMF Financial Access Survey (FAS)

Survei inklusi keuangan IMF yang mengukur akses ke layanan keuangan digital. Digunakan oleh SNKI (Strategi Nasional Keuangan Inklusif) Indonesia. Fokus pada digital payment adoption, mobile banking, dan financial inclusion metrics.

Tabel/Prinsip Relevan:

Digital payment indicatorsMobile banking usageFinancial inclusion metricsGeographic access indicators

Relevansi: SNKI Indonesia dan IMF FAS menggunakan indikator digital payment. SPIP dapat memberikan data sumber untuk FAS reporting. Relevan untuk kebijakan keuangan inklif.

Visualisasi Data

Ringkasan Perbandingan Sebelum-Sesudah

Indikator
-108.500

Sebelum

181.0K

Sesudah

72.5K

Tabel
-14

Sebelum

34

Sesudah

20

Bab
-4

Sebelum

12

Sesudah

8

Insight Kunci

Peningkatan Drastis

Pengurangan 59.5% indikator dari 179,187 menjadi 72,500, fokus pada metrics yang relevan dan actionable

Alignmen Internasional

Struktur baru 100% align dengan CPMI-BIS Red Book Statistics, mendukung komitmen Indonesia sebagai anggota CPMI

Fokus Digitalisasi

17 indikator baru fokus pada transformasi digital pembayaran (QRIS, BI-FAST, e-money interoperability) sesuai BSPI 2025

Kualitas Data

Menghapus 50,000+ indikator regional kosong/redundan, meningkatkan kualitas data dan efisiensi pelaporan

Ekspor & Bagikan

Ekspor Dokumen

Bagikan Dashboard